Puisi-Puisi Ferre dalam Supernova 1: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh

by - 4:59:00 PM


Halooo! Inget nggak, dua tahun yang lalu, aku pernah menjanjikan sesuatu? Ya nggak inget lah ya, pasti! Jarang juga ada yang baca blog ini, kan... Haha... Tapi, kalau aku belum melaksanakannya, aku merasa kayak dikejar-kejar terus, nih. Jadi, tepat pada tanggal 14 Januari 2015, di postingan ini aku pernah bilang bakal posting puisi-puisinya Ferre, salah satu tokoh dalam serial Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang ditulis oleh Dee Lestari.

Bagi kalian yang masih belum tahu apa-apa tentang novel ini, boleh dibaca dulu postingan aku yang dulu itu. Tapi kalau nggak mau ya nggak papa juga sih. Oke, daripada basa-basinya makin panjang, langsung aja kita baca puisi-puisinya Ferre yang berhasil bikin aku meleleh.

Putri,
Kembalilah ke puri ini.
Satu semesta mungil yang mampu melumat bumi
kalau aku mau membentangkannya.
Inilah nirwana yang mampu menampung perasaan kita.
Bumi punya langit sebagai jendela terhadap galaksi mahaluas
yang berjaya dalam misteri.
Jendelaku adalah carik-carik kertas--
berisi daftar pertanyaan tentang dunia
yang tak akan habis dimengerti.
Bumi menggetarkan nyali dengan palung-palung dalam.
Aku cuma punya beberapa piringan hitam--
laut pribadiku yang di dalamnya selalu ada kamu,
dan kamu lagi.
Samudra kata terbelit musik dan diudarai kenangan.
Di dalamnya aku bisa berenang selama ikan.
Bumi adalah sebuah kumparan besar
yang melingkarkan semua makhluk dalam kefanaannya.
Melingkarkan engkau dan aku.

---

Aku kangen kamu. Kangen ketidakpercayaanmu.
Pesimismemu.
Namun, kau pilihanku.

---

Aku mencintaimu sepenuh hati, Putri.
Tak peduli lagi tepat atau tidak.
Tak peduli kau menyadari aku hilang atau tampak.
Tak peduli kau bahagia dengan diriku atau
cuma dengan sel otak

---

Dulu aku adalah pujangga.
Seorang arwah pujangga tersasar masuk
ke dalam tubuh mungilku.
Dulu aku berkata-kata bak mutiara nan wangi.
Dan, mutiara sangatlah aneh di tengah batu kali.
Pikiranku bagai seribu persimpangan
dalam sekotak korek api.
Karena itulah aku anomali.

---

Sudah kumenangkan taruhan ini, bahkan dengan amat adil.
Jauh sebelum kau menyerahkan kertas dan pensil.
Karena rinduku menetas sebanyak tetes gerimis.
Tidak butuh kertas, atau corengan garis.
Genggamlah jantungku dan hitung denyutannya.
Sebanyak itulah aku merindukanmu, Putri.

---

Karena ini ia dinamakan si jantung hati.
Memompa lembut seperti angin memijat langit.
Berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
Dan, darah cinta adalah udara,
Dengan roh rindu yang menumpang lewat di dada.

---

Semua orang menyimpan sebongkah matahari dalam dirinya.
Ada yang terbit dan ada yang terbenam.
Matahariku bersinar nonstop dua puluh empat jam.
Masih adakah cucian yang belum kering?
Adakah sampah yang ingin kalian bakar?
Mari, dekatkan pada wajahku.

---

Ayo, Putri, cambuklah kuda waktuku, agar ia sedikit berlari,
dan berarti.

---

Aku merasa begitu kecil di tengah keluasanku.
Rintikmu raksasa dalam mungil tetesmu.
Engkau menyelimuti dengan dingin.
Dan, semakin kau merapat, semakin membara alam ini.
Jutaan engkau kini turun membanjiriku.
Tak akan pernah aku meluap, Putri.
Kugali tanahku lebih dalam dan kubuka semua celah
untuk menyerapmu.

---

Putri, aku ingin sekali tuli.
Sekawanan samurai terbuat dari huruf datang menyerang.
Mencacah harga diriku seperti daging cincang.
Mereka menghinaku karena aku cuma bisa diam.
Mereka menyumpahiku karena aku rela diabaikan.

---

Takkan kuhadirkan kakiku ke sana, takkan pula kuhadapkan
mataku untuk melihatnya.
Aku akan dirasuki jutaan imaji mengenai dirimu dengannya.
Bagaimana kalian makan bersama atau
bercinta di atas meja.
Dan, betapa seharusnya engkau tidak di sana.
Maaf, saya sedang tidak berselera untuk disiksa.

---

Rasa memiliki itu hidup seperti sel.
Semula satu dan kemudian terpecah jadi seribu satu.
Dan, aku menyimpan sel-sel yang sangat sehat, Putri.
Ia akan terpecah di luar kendali cinta itu sendiri.
Sel ini terus bertambah dan merambah.
Mereka hidup melingkari kita, semenjak kita saling mencinta.
Suka tak suka.

---

Ajarkan aku menjadi naif.
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa.
Senaif kebahagiaan di alam kita berdua.
Karena setiap detik di kala kenyataan mulai bersinggungan,
aku rasakan sakit yang nyaris tak tertahankan.
Atau ajarkan aku menjadi penipu,
apabila ternyata kau merasakan sakit itu dalam tawamu.

---

Kalau saja aku bisa berkata "untung saja".
"Untung saja, aku berkenalan denganmu tiga tahun dan empat
puluh tiga hari lebih awal."

---

Aku adalah manusia statistis.
Statistik kita tidak bagus, Putri.
Aku adalah manusia yang butuh pengakuan.
Tak kutemukan satu orang pun yang mengakui kita.

---

Semua perjalanan hidup adalah sinema.
Bahkan lebih mengerikan, Putri.
Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis.
Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.

---

Aku tak mengenalmu, kita bukan teman.
Namun, aku tak ingin menyakitimu, demi Tuhan.
Apa yang kau miliki sekarang amatlah aku inginkan.
Dan, untuk mengertinya tidaklah sulit.
Kami adalah jalinan satelit yang saling membelit.
Mengelilingi satu planet yang menarik kami laksana magnet.
Tak ada lagi tempat di orbit ini, bahkan untuk bayangan kami
sendiri.
Jadi, relakan kami untuk saling memiliki.

---

Aku bosan diam.
Aku ingin berteriak lantang.
Menembus segenap celah dan semua lubang.
Merasuk ke ujung gendang telinga semua orang.
Aku mencintainya.

---

Pada saat seperti ini izinkanlah aku mempertanyakan,
di mana engkau letakkan aku?
Adakah aku seberharga cincin
yang melingkar manis di jarimu?
Ataukah aku senyaman sepatu tuamu
yang tak terasa lagi bila dipakai?
Akankah kau pertahankan aku selayaknya nyawamu sendiri?
Ataukah namaku hanya akan melintas sekilas
di detik-detik terakhirmu?
Untuk kemudian menyublim seperti arwah tersedot surga.
Mengertikah kini, Putri?
Karena itulah aku ingin hidup nyata.

---

Aku bukan orang yang lemah.
Kalau aku lemah, sudah kubersembunyi di dasar lembah.
Namun, aku orang yang kuat.
Dengan dagu tercuat, menggenggam kejujuran erat-erat.
Tapi, kalau cuma jadi hantu, aku pun tak tahu.

---

Layakkah cinta hidup semu laksana hantu?
Yang melayang bagai bulu panah.
Aku ingin menjejak tanah.
Mengambang membuatku lelah.
Aku ingin memiliki.
Aku ingin diakui.

---

Wahai, Tuhan,
aku tahu kita tak saling bicara.
Tapi, tentunya Kau masih ingat aku,
sebagaimana aku tak menyangkal-Mu.
Dan, jika ini detik-detik penghabisanku,
bebaskan aku berbicara semauku.
Izinkan aku kesal kepada-Mu di dalam kepasrahanku.
Sepanjang hidup Engkau selalu membingungkan.
Dengan cara-cara aneh, Kau tunjukkan keagungan.
Kau, dengan teka-teki-Mu bernama Takdir.
Bahkan, di saat seperti ini, ada saja cara kalian membuatku
tertawa sekaligus tersindir.

---

Kamu benar, Putri. Perasaan itu sudah mengkristal.
Dan, akan kusimpan. Selamanya.

--- 

Putri, lihatlah aku.
Aku melayang tinggi.
Menembus semua akal.
Cinta tak pernah jadi hantu.
Ia menjejak nyata di seluruh jagat raya.
Dan, itulah aku.

You May Also Like

2 komentar

  1. Waaa ada pembaca Supernova juga di sini x)

    www.magellanictivity.com

    ReplyDelete