Ingin Kembali ke Masa Lalu

by - 1:15:00 AM

Rasanya, aku ingin kembali ke masa dimana duniaku hanya terisi oleh buku, buku, dan buku. Bukannya aku menyesali akan diriku yang sekarang, aku hanya merasa berbeda. Padahal, aku tak pernah ingin berubah dan tak menyukai sebuah perubahan. Tapi, itu semua hanya masalah waktu dan aku hanya bisa termangu.

Rasanya, aku rindu saat setiap pulang sekolah mampir ke toko buku. Bukan untuk membeli, melainkan hanya lihat-lihat saja.

Rasanya, aku rindu sebulan sekali ke Jakarta naik motor dengan Papa untuk kontrol ke dokter gigi. Panas maupun hujan kami lewati bersama. Menunggu dokter dari sore hingga larut malam karena antrenya para pasien.

Rasanya, aku rindu berburu buku murah. Pertama kali menginjakkan kaki ke Senen; pertama kali mengunjungi Indonesia Book Fair bersama Papa, lalu tahun berikutnya dengan Kakak, dan tahun berikutnya lagi bersama beberapa teman kampus.

Rasanya, aku rindu menjelajahi kota Jakarta saat aku belum mengetahui seluk beluknya seperti dulu. Pertama kali ke Plaza Semanggi bersama Papa (lagi-lagi berburu buku murah, dan aku menyesal tak membeli buku Bilangan Fu karena saat itu aku belum menjadi mahasiswa sastra yang diharuskan untuk membaca buku tersebut), yang sebelumnya kami sempat mengalami kecelakaan hingga mampir ke Setiabudi untuk mencari apotek; pertama kali ke Blok M bersama Kakak karena belum mengerti rute Transjakarta; pertama kali ke Gelora Bung Karno; pertama kali ke Pacific Place; pertama kali ke FX Senayan; pertama kali ke Atrium Senen; pertama kali ke EX; pertama kali ke Senayan City; pertama kali ke Grand Indonesia; pertama kali ke Central Park; pertama kali ke Stasiun Sudirman. Sekarang, semua tempat-tempat itu bagai tinggal tunjuk saja. Aku merasa, ah, ternyata tempat-tempat yang dulu aku kira jauh sekali ini, sekarang sering sekali kulewati.

Walaupun aku merasa hidupku berubah, masih ada satu sifatku yang sama seperti dulu. Yaitu, aku sangat suka memandangi kota yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang, motor-motor saling mendahului, mobil-mobil saling meneriakkan klakson. Karena itulah, walau fisik terasa lelah akibat pulang pergi Jakarta-Tangerang, batinku terasa sangat menikmatinya.

Saat ini, aku hanya sedang merindukan masa lalu. Aku yang tak tahu apa-apa tentang dunia luar. Hanya tahu dan hanya peduli tentang buku. Bahkan, wawasan buku-ku belum luas seperti sekarang. Aku tak mengenal Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Helvy Tiana Rosa (yang saat ini menjadi dosenku), Ahmad Tohari, Goenawan Mohammad, Chairil Anwar, dan masih banyak lagi. Nama-nama yang hanya kulihat di lembar soal ujian bahasa Indonesia dulu, kini beberapa telah kutemui secara langsung. Ah, tiba-tiba aku rindu pada soal-soal ujianku…

Aku memang orang yang mudah merindukan sesuatu jika emosi sedang tak stabil, dan lalu menuliskannya sesuka hati tanpa mau tahu apakah tulisan ini sinkron atau tidak, menarik para pembaca atau tidak. Satu lagi, ini untuk yang terakhir kalinya kutulis, aku selalu merindukanmu, tanpa kamu tahu. Dan kaulah penyebab utama mengapa aku ingin kembali ke masa lalu.

You May Also Like

0 komentar